Kamis, 18 April 2019

DASAR, TUJUAN, DAN AZAS-AZAS PENDIDIKAN


Disusun Oleh : Ade Lutfiyah




DASAR, ASAS, FUNGSI DAN TUJUAN PENDIDIDKAN
A. Dasar Pendidikan
Yang dimaksud dasar pendidikan di sini adalah pandangan yang mendasari seluruh aktivitas pendidikan, baik dalam rangka penyusunan teori perencanaan maupun pelaksanaan, dan penyelenggaraan pendidikan.Pendidikan sebagai usaha dasar yang sistematik selalu bertolak dari sejumlah azas-azas tertentu.Landasan azas tersebut sangat penting, karena merupakan pilar utama terhadap pengembangan manusia dan masyarakat suatu bangsa tertentu.
       Adapun dasar-dasar pendidikan adalah sebagai berikut:
1. Dasar filosofis
      Landasan filosofis merupakan landasan yang berkaitan dengan makna atau hakikat pendidikan, yang berusaha menelaah masalah-masalah pokok seperti: apakah pendidikan itu, mengapa pendidikan itu di perlukan, apa yang seharusnya menjadi tujuannya, dan sebagainya. Landasan filosofis adalah landasan yang berdasarkan atau bersifat filsafat (falsafah, falsafat).
       Kata filsafat ( philosophy) bersumber dari bagasa yunani, yaitu phitein berarti mencintai, dan shop atau shopis berarti hikmah, arif atau bijaksana. Konsepsi-konsepsifilosofis tentang kehidupan manusia dan dunianya pada umumnya bersumber dari dua factor yaitu:
a. Religi dan etika yang beryumpupada keyakinan.
b. Ilmu pengetahuan yang mengandalkan penalaran.
Tinjauan filosofis tentang sesuatu, termasuk pendidikan berarti berpikir bebas serta merentangkan pikiran sampai sejauh-jauhnya tentang sesuatu itu. Penggunaan istilah filsafat dapat dalam dua pendekatan yakni:
a) Filsafat sebagai kelanjutan dari berpikir ilmiah yang dapat dilakukan oleh setiap orang serta sangat bermanfaat dalam memberi makna kepda ilmu pengetahuannya itu.
Filsafat sebagai kajian khusus yang formal, yang mencakup logika, epistemology (tentang benar dan salah), etika (tentang baik dan buruk), estetika ( rentang indah dan jelek), metafisiska (tentang hakekat yang “ada”, termasuk akal itu sendiri), serta social dan politik (filsafat pemerintahan). Disamping itu, berkembang pula cabang filsafat yang
b) mempunyai bidang kajian spesifik, seperti filsafat ilmu, filsafat hukum, filsafat pendidikan, dan sebagainya. Landasn filosis terhadap pendidikan dikaji terutama melalui filsafat pendidikan, yang mengkaji masalah sekitar pendidikan dengan sudut pandang filsfat (Tirtaraharja, 2001: 84).

a. Pengrtian landasan filosofis
Terdapat kaitan yang erat antar pendidikan dan filsafat karena filsafat mencoba merumuskan citra tentang manusia dan masyarakat, sedangkan pendidikan berusaha mewujudkan citra itu. Rumusan tentang harkat dan martabat manusia beserta masyrakat ikut menentukan tujuan dan cara-cara penyelenggaraan pendidikan, da dari sisi lain, pendidikan merupakan proses memanusiakan manusia.Peranan masyarakat dalam bidang pendidikan tersebut berkaitan dengan hasil kajian antara lain:
1) Keberadaan dan kedudukan manusia sebagai makhluk di dunia ini seperti yang di simpulkan sebagai zoon politicon, homo sapiens, animal educandum, dan sebagianya.
2) Masyarakat dan kebudayaannya
3) Keterbatasan manusia sebagai makhluk hidup yang banyak menghadapi tantangan, dan
4) Perlukan landasan pemikiran dalam pekerjaan pendidikan, utamanya filsafat pendidikan. Hasil-hasil kajiana filsafat tersebut, utamanya tentang konsepsi manusia dan dunianya, sangat besar pengaruhnya terhadap pendidikan (Tirtarahardja, 2000: 84).

b. Pancasila sebgai landasan filosofis Sistem Pendidikan Nasionalis
      Pasal 2 UU RI No. 2 Tahun 1989 menetapkan bahwa pendidikan Nasional berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. Rincian selanjutnya tentang hal itu tercantum dalam penjelasan UU RI No.2 Tahun 1989, yang menegaskan bahwa pembangunan nasional termasuk dibidang pendidikan, adalah pengamalan pancasila dan untuk itu pendidikan nasional mengusahakan antara lain : “ Pembentukan manusia pancasila sebagai manusia pembangunan yang tinggi kualitasnya dan mampu mandiri”.
2. Dasar sosiologis
Menurut Wayan Ardhana dan Umar Tirtarahardja (2000:84), manusia selalu hidup berkelompok, sesuatu yang juga terdapat pada makhluk hidup lainnya, yakni hewan.Meskipun demikian pengelompokan manusia jauh lebih rumit dari dari pengelolaan hewan.
a. Pengertian tentang landasan sosiologis
Kegiatan pendidikan merupakan suatu proses interaksi antara dua individu, bahkan dua generasi yang memungkinan generasi muda memperkembangkan diri. Kegiatan pendidikan yang sistematis terjadi di lembaga sekolah yang dengan sengaja dibentuk oleh masyarakat.Perhatian sosiologi pada kegiatan pendidikan semakin intensif.Dengan meningkatkan perhatian sosiologi pada kegiatan pendidikan tersebut, maka lahirlah cabang sosiologi pendidikan.
Sosiologi pendidikan merupakan analisis ilmiah tentang proses sosial dan pola-pola interaksi sosial di dalam sistem pendidikan. Meliputi empat bidang, yaitu :
1) Hubungan sistem pendidikan dengan aspek masyarakat lain.
2) Hubungan kemanusiaan di sekolahan.
3) Pengaruh sekolah pada perilaku anggotanya.
4) Sekolah dalam komunitas, yang mempelajari pola interaksi antara sekolah dengan kelompok sosial lain di dalam komunitasnya.

b. Masyarakat Indonesia sebagai lamdasan sosiologis sistem pendidikan nasional
Masyarakat sebagai kesatuan hidup memiliki ciri utama antara lain :
1) Ada interaksi antara warga-warganya .
2) Pola tingkah laku warganya di atur oleh adat istiadat, norma-norma, hukum dan aturan-aturan yang khas.
3) Ada rasa identitas kuat yang mengikat pada warganya. Kesatuan wilayah, kesatuan adat istiadat, rasa identitas, dan rasa loyalitas terhadap kelompoknya merupakan pangkal dari perasaan bangga sebagai patriotisme, nasionalisme, jiwa korps, dan kesetiakawanan sosial dan lain-lain (Ardhana, 1986: 68).

3. Dasar kultural
Pendidikan selalu terkait dengan manusia, sedang setiap manusia selalu menjadi anggota masyarakat dan pendukung kebudayaan tertentu. Oleh karena itu, dalam UU NO.2 Tahun 1989 pasal 1 ayat 2 ditegaskan bahwa yang dimaksud dengan sistem  Pendidikan Nasional adalah Pendidikan yang berakar pada kebudayaan Bangsa Indonesia dan yang berdasarkan pada Pancasila dan UUD 1945.
a. Pengertian tentang Landasan Kultural
Kebudayaan sebagai gagasan dan karya manusia beserta hasil budi dan karya itu akan terkait dengan pendidikan, utamanya belajar. Kebudayaan dalam arti luas tersebut dapat berwujud :
1) Ideal seperti ide, gagasan, nilai, dan sebagainya.
2) Kelakuan berpola dari manusia dalam masyarakat, dan
3) Fisik yakni benda hasil karya manusia (Koentjaraningrat,1975: 15-22)

b. Kebudayaan nasional sebagai landasan sistem pendidikan nasional
Menurut Undang-undang RI Tahun 1989 Pasal 1 ayat 2 yang dimaksud dengan sistem pendidikan nasional adalah pendidikan yang berakar pada kebudayaan bangsa Indonesia. Karena masyarakat Indonesia sebagai pendukung kebudayaan itu adalah masyarat yang majemuk, maka kebudayaan bangsa indonesia tersebut lebih tepat disebut sebagai Kebudayaan Nusantara yang beragam.
4. Dasar psikologis
Pendidikan selalu melibatkan aspek kejiwaan manusia, sehingga landasan psikologis merupakan salah satu landasan yang penting dalam bidang pendidikan.
a. Pengertian tentang landasan psikologis
Munurut Maslow dan Umar Tirtarahardja, kebutuhan yang paling utama adalah kebutuhan fisiologis dan individu diharapkan dapat memenuhi kebutuhan ini sebelum mengerjakan kebutuhan akan rasa aman. Demikian untuk kebutuhan-kebutuhan berikutnya. Kebutuhan yang lebih rendah merupakan persayaratan bagi pemuasan kebutuhan berikutnya yang lebih tinggi (Tirtarahardja,2000: 106).
b. Perkembangan peserta didik sebagai landasan psikologis
Peserta didik selalu berada dalam proses perubahan, baik karena pertumbuhan maupun karena perkembangan. Pertumbuhan terutama karena faktor internal sebagai akibat kematangan dan proses pendewasaan, sedangkan perkembangan terutama karena pengaruh lingkungan. Tumbuh kembang manusia itu di pengaruhi oleh berbagai faktor, yakni faktor keturunan (Hereditas), faktor lingkungan, faktor proses perkembangan itu sendiri, serta hal-hal lain sebagai anugerah.

5. Dasar ilmiah dan teknologis
Pendidikan serta ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) mempunyai kaitan yang sangat erat.Sebagaimana diketahui bahwa iptek menjadi bagian utama dalam isi pengajaran; dengan kata lain, pendidikan berperan sangat penting dalam pewarisan dan pengembangan iptek. Dari sisi lain, setiap perkembangan iptek harus segera di akomodasi oleh pendidikan yakni dengan segera memasukan hasil pengembangan iptek itu kedalam isi bahan ajaran. Sebaliknya, pendidikan sangat dipengaruhi oleh sejumlah cabang-cabang iptek, utamanya ilmu-ilmu perilaku (psikologi, sosiologi dan antropologi).
a. Pengertian tentang Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK)
Terdapat beberapa istilah yang perlu dikaji agar jelas makna dan kedudukan masing-masing, yakni pengetahuan, ilmu pengetahuan, teknologi, serta istilah lain yang terkait dengannya. Pengetahuan (knowledge) adalah segala sesuatu yang diperoleh melalui berbagai cara penginderaan terhadap fakta, penalaran (rasio) intuisi dan wahyu.
Pengetahuan ilmiah pada dasarnya merupakan abstraksi yang di sederhanakan dari fakta atau kejadian alam yang kompleks. Untuk itu, ilmu mempunyai tiga asumsi tentang objek empiris itu, yakni :
1) Objek-objek tertentu mempunyai keserupaan satu sama lain yang memungkinkan dilakukan klarifikasi.
2) Objek dalam jangka waktu tertentu tidak mengalami perubahan (kelestarian yang relative).
3) Adanya determinisme, bahwa suatu gejala bukan merupakan kejadian yang kebetulan tetapi mempunyai pola tertentu yang bersifat tetap (suriasumantri, 1978: 8).
b. Perkembangan Iptek sebagai Landasan Ilmiah
Iptek merupakan salah satu hasil dari usaha manusia untuk mencapai kehidupan yang lebih baik, yang telah di mulai pada permulaan kehidupan manusia.Lembaga pendidikan, utamanya pendidikan jalur sekolah haruslah mampu mengakomodasi dan mengantisipasi perkembangan iptek. Bahan ajaran seyogyanya hasil perkembangan iptek mutakhir, baik yang berkaitan dengan hasil perolehan informasi, maupun cara memperoleh informasi itu dan manfaatnya bagi masyarakat.
B. Tujuan pendidikan
      Tujuan pendidikan ialah perubahan yang diharapkan pada subjek didik setelah mengalami proses pendidkan baik tingkah laku individu dan kehidupan pribadinya maupun kehidupan masyarakat dari alam sekitarnya di mana individu itu hidup. Adapun tujuan dan cita-cita pendidikan antara satu negara dengan negara lain itu tentu berbeda. Hal ini disebabkan kareana sumber-sumber yang dianut sebagai dasar penentuan cita-cita itu berbeda.
        Namun demikian, ada prinsip-prinsip yang sama anatara berbagai negara dalam hal faktor-faktor yang berpengarauh terhadap penentuan cita-cita pendidikan pada suatu bangsa. Faktor-faktor tersebut, yakni:
1. Yang pertama-tama berpengaruh terhadap penentuan cita-cita pendidikan itu adalah Faham nasionalisme serta dasar dan falsafah yang dianutnya.
2. Ide pendiddikan juga perpengaruh kepada psikologis, pendidikan itu harus dapat mencapai keselarahan dan keserasian (harmonis) antara jasmani dan rohani.
3. Ide atau cita-cita dari pendidikan dipengaruhi oleh sifat-sfat manusia itu sendiri. Yaitu sifat sebagai individu dan sebagai anggota masyaraka. Karena itu selain menjadi subjek juga menjadi objek dari pendidikan.
4. Cita-cita pendidikan haruslah pula mengalami perkembangan dan kemajuan sesuai dengan perkembangan dan kemajuan ilmu penegtahun dan teknologi modern.
Menurut Umar Tirtahardja (2000: 39),ada beberapa hal yang menyebabkan mengapa tujuan umum melalui proses pendidikan.
1. Pengkhususan tujuan kemungkinan dilaksanakannya tujuan umum melalui proses pendidikan.
2. Adanya kekhususan dari peserta didik, yaitu yang berkenaan dengan jenis kelamin,pembawaan dan minatnya kemampuan orang tuanya, lingkungan masyarakat.
3. Kepribadian yang menjadi sasaran untuk di bentuk atau di kembangkan bersifat komplek sehingga perlu dirinci dan khususkan, apek yang dikembangkan.
4. Adanya tahap-tahap perkembangan pendidikan,
5. Adanya kekhususan masing-masing lembaga penyelenggara pendidikan,
6. Adanya tuntutan persyaratan pekerjaan di lapangan yang harus dipenuhi oleh peserta didik sebagai pilihannya.
7. Diperlukan teknik tertentu yang menunjang pencapaian tujuan lebih lanjut,
8. Adanya kondisi situasioanal,
9. Kemampuan yang ada pada pendidik
Di dalam praktek pendidikan khususnya pada sistem pendidikan, didalam rentangan dan tujuan umum deangan tujuan yang sangat khusus terdapat sejumlah tujuan antara.Tujuan antara berfungsi untuk menjembatani pencapain tujuan umum dari sejumlah tujuan rinci khusus. Umumnya ada 4 jenjang tujuan yang didalamnya terdapat tujuan antara yaitu tujuan umum, tujuan institusional ,tujuan kulikuler, dan tujuan instruksional.
a. Tujuan umum pendidikan nasional Indonesia ialah manusia pancasila.
b. Tujuan institusional yaitu tujuan yang menjadi tugas dari lembaga pendidikan tertentu untuk mencapainya.
c. Tujuan kurikuler, yaitu tujuanbidang studi atau tujuan mata pelajaran.
d. Tujuan instruksional.
Yang menjadi tujuan utama pengelolaan proses pendidikan yaitu terjadi proses belajar dan pengalaman belajar  yang optimal. Sebab berkembangnya tingkah laku peserta didik sebagia tujuan belajar hanya dimungkinkan oleh adanya pengalaman belajar yang optimal itu (tirtarrahardja, 2000: 41).
Tujuan pendidikan di Indonesia adalah sebagia berikut:
1. Rumusan menurut SK Menteri pendidkan pengajaran dan kebudayaan No. 104/Bhg.O tanggal 1 Maret 1946, tujuan pendidkan adalah untuk menanamkan jiwa patriotism
2. menurut UU No. 4 tahun 1950 (UU Pendidikan dan Pengajaran), tujuan pendidkan dan pengajaran ialah membentuk manusia susiala yang cakap dan warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab kesejahteraan masyarakat tanah air.
3. menurut ketetapn MPR Nomor II tahun 1966, tujuan pendidikan ialah mendidik anak kearah terbentuknya manusia yang berjiwa panacasila dan bertanggung jawab atas terselenggaranya masyarakat sosial Indonesia yang dail dan makmur material dan spiritual.
4. melahirkan warga negara sosialis Indonesia yang susila, yang bertanggung jawab atas terselenggaranya masyarakat Indonesia yang adil dan makmur baik spiritual maupun material yang berjiwa pancasila.
5. membentuk pacasila sejati berdasarkan ketentuan-ketentuan yang dikehendaki oleh pembukan UUD 1945.
Tujuan pendidikan di Indonesian ialah untuk membentuk manusia seutuhnya, dalam arti berkembangnya potensi-potensi individu secara harmonis, berimbang, dan terintegrasi. Tujuan pendidikan juga mengembangkan potensi-potensi individu seperti apa adannya, karena secara konsep atau dokumen tujuan pendidikan Indonesia tidak berbeda berarti dengan tujuan pendidikan yang di inginkan oleh para ahli pendidikan di dunia (Pidarta, 1997: 18).
Secara kseluruhan dapat di katakan bahwa tujuan pendidikan merupakan masalah yang intim dalam pendidikan, dan merupakan sari pati dari seluruh faktor yang sangat menentukan jalannya pendidikan sehingga perlu dirumuskan sebaik-baiknya sebelum semuanya kegiatan pendidikan dilaksanakan. Tujuan pendidikan antara lain adanya perubahan tingkah laku, sikap dan kepribadian yang bagaimana yang di harapkan setelah subjek didik mengalami pendidikan. Tujuan akhir dalam pendidikan biasanya tercakup dalam filsafat pendidikan dan filsafat hidup bangsa yang melaksanankan pendidikan itu.
C. Azas Azas pendidikan
Azas pendidikan merupakan suatu kebenaran yang menjadi dasar atau tumpuan berpikir, baik pada tahap perancangan maupun pelaksanaan pendidikan.Pandangan tentang hakikiat manusia merupakan tumpuan berpikir utama yang sangat penting dalam pendidikan.Salah satu azaz utama pendidikan adalah bahwa manusia itu dapat di didik dan dapat mendidik diri sendiri.
        Mengetahui dan mendalami azas-azas pendidikan bukanlah merupakan tugas pemikir atau para ahli saja berkenaan dengan azas-azas pendidikan maka dapat di uraikan dalam enam azas berikut ini:
1. Azas-azas historis yang mempersiapkan di pendidik dengan hasil-hasil pengalaman masa lalu, dengan undang-undang dan peraturan-peraturannya, batas-batas dan kekurangannya.
2. Azas-azas sosial yang memberikan kerangka budaya dari mana pendidikan itu bertolak dan bergerak: memindah budaya, memilih dan mengembangkannya
3. Azas-azas ekonomi yang memberikan perespektif tentang potensi-potensi manusia dan keuangan.
4. Azas-azas politik dan administrasi yang memberinya bingkai ideologi dari mana ia bertolak untuk mencapai tujuan yang di ceritakan dan rencana yang telah di buat.
5. Azas-azas pesikologis yang memberi informasi tentang watak pelajar-pelajar, guru-guru, cara-cara terbaik dalam praktek, pencapaian dan penilaian pengukuran dan bimbingan.
6. Azas-azas filsafat yang memberinya kemampuan memilih yang lebih baik, memberikan arah suatu sistem, mengontrolnya dan memberi arah kepada azas-azas yang lain.
Ada tiga azas yang sangat relevan dengan upaya pendidikan, baik masa kini ataupun masa depan. Oleh karena itu, setiap tenaga pendidikan harus memahami dengan tepat azas 3 tersebut agar dapat menerapkannya dengan semestinya dalam penyelenggaraan pendidikan sehari-hari (Tirtarahardja, 2000: 117).
1. Azas Tut Wuri Handayani
    Azas Tut Wuri Handayani, yang kini menjadi semboyan Departemen Pendiddikan Nasional, pada awalnya merupakan salah satu dari “azas 1922” yakni 7 buah azas Perguruan Nasional Taman Siswa (didirikan 03 Juli 1922).
Sekarang ketiga semboyan tersebut telah menyatu menjadi satu kesatuan azas, yakni:
- Ing Ngarso Sung Tulodo (jika di depan, menjadi contoh)
- Ing Madyo Mangun Karso (jika di tengah-tengah membangkitkan kehendak, hasrat motivasi)
- Tut Wuri Handayani ( jika di belakang, mengikuti dengan awas)

2. Azas Belajar Sepanjang Hayat
    Azas belajar sepanjang hayat (life long learning) merupakan sust pandang dari sisi lain terhadap pendidikan seumur hidup (life long education).pendidikan seumur hidup merupakan a concept.
Menurut hameyer dan Umar Tirtahardja mengatakan sebagai berikut:
a. Dimensi vertikal dari kurikulum sekolah yang meliputi. Di samping keterkaitan dan kesinambungan antar tingkatan persekolahan, harus pula terkait denagn kehidupan peserta didik di masa depan. Termasuk dalam dimensi vertikal itu antara lain pengkajian tentang:
1) Kerterkaitan antara kurikulum dengan masa depan peserta didik
2) Kurikulum dan perubahan sosial kebudayaan.
3) “The forecasting curriculum” yakni perancangan kurikulum berdasarkan suatu prognosis, baik tentang perilaku peserta didik pada saat menamatkan sekolahnya.
4) pengintegrasian dengan pengalaman yang telah dimiliki peserta didik, yakni pengalaman keluarga untuk pendidikan dasar dan demikian seterusnya

b. Dimensi horizontal dari kurikulum sekolah yakni keterkaitan antara pengalaman belajar di sekolah dengan pengalaman di luar sekolah.
1) Kurikulum sekolah merefleksikan kehidupan di luar sekolah.
2) Memperluas kegiatan belajar ke luar sekolah.
3) Melibatkan orang tau dan masyarakat dalam kegiatan belajar mengajar, baik sebagai narasumber di dalam kegiatan belajar di sekolah maupun dalam kegiatan belajar di luar sekolah (Tirtarahardja, 2000: 122)

3. Azas Kemandirian dalam Belajar
     Perwujudan azaz kemandirian dalam belajar akan menempatkan guru dalam peran utam sebagai fasilitator dan motivator, disamping peran- peran lain informatory, organisator,dan sebagaunya. Sebagai fasilitator guru di harapkan menyediakan dan mengatur berbagai sumber belajar sedemikian hingga memudahkan peserta didik untuk memanfaatkan sumber tersebut.
     Adapun azas-azas pendidikan nasional dilaksanakan dengan memperhatikan azas-azas pelaksanaan seperti berikut:
a. Azas sementara menyeluruh dan terpadu
b. Azas pendidikan seumur hidup
c. Azas pendidikan berlangsung dalam lingkungan rumah tangga, sekolah dan masyarakat
d. Azas keselarasan dan keterpaduan dengan ketahanan nasional dan wawasan  nusantara.
e. Azas tanggung jawab bersama keluarga, masyarakat dan pemerintah
f. Azas Bhineka Tunggal Ika
g. Azas keselarasan, keserasian,seimbangan dan kebutuhan yang utuh dalam seluruh kegiatan pendidikan.
h. Azas manfaat, adil dan merata.
i. Tut Wuri Handayani.
j. Azas mobilitas, efisiensi dan efektivitasyang memungkinkan kesempatan seluas-luasnya bagi setiap manusia Indonesia yang memperoleh pendidikan.
k. Azas kepastian hukum